Mencatat tentang Analisis Meta
“Ting tung..” reminder bahwa ada email masuk muncul di sudut kanan bawah layar monitor saya. Sebuah email dari pembimbing. Bergegas segera saya buka inbox email dan mendapatkan pesan bahwa beliau menyarankan saya untuk membaca 1 paper tentang Analisis Meta. Secara cepat saya lihat papernya dan reflek tangan kiri saya mengambil buku statistik yang menjadi salah satu buku panduan dan kadang ‘pajangan’ di kandhang pikir. Selanjutnya, dapat rekans tebak. Pantat saya nempel sama kursi. Jidat berkerut tanda puyeng dan hilanglah nafsu makan. Ha..ha..ha..
Meta analysis, atau yang dalam tulisan ini saya terjemahkan menjadi analisis meta, adalah sebuah metode pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengintegrasikan temuan-temuan dari berbagai penelitian individual yang telah dilakukan sebelumnya. Kemampuan pendekatan ini untuk mengintegrasikan penelitian-penelitian sebelumnya menjadikannya mampu menyajikan 1 hasil untuk memahami hubungan antar variabel yang dibahas sehingga menjadikan satu langkah maju untuk merumuskan teori.
Ilmu berkembang dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena yang ditemukan di lingkungan nyata. Untuk mencapainya, ilmu memerlukan akumulasi pengetahuan yang dapat menjadi dasar suatu teori. Teori inilah yang akan dipahami umum untuk menjelaskan secara keilmuan tentang fenomena. Bila ada teori maka manusia akan ‘dipermudah’ untuk memahami kekompleksan fenomena lingkungannya karena dapat tahu apa sebab, apa akibat, dan hubungan diantara keduanya. Dengan demikian, teori ini sebenarnya merupakan gabungan dari hubungan sebab-akibat antara berbagai variabel terkait. Oleh karenanya, penjelasan hubungan antar variabel diperlukan untuk membangun sebuah teori.
Nah, analisis meta hadir untuk membantu mengintegrasikan hubungan antar variabel tersebut. Pertanyaan yang akan muncul adalah ‘Mengapa mengintegrasikan?’ Analisis meta bersifat mengintegrasikan karena dasar pendekatannya adalah menggabungkan hasil penelitian-penelitian individual yang dilakukan sebelumnya. Misal, bila saya akan melakukan analisis meta pada hubungan antara variabel A dan B, maka saya akan mencari penelitian-penelitian sebelumnya yang menganalisis tentang hubungan variabel A dan B. Katakanlah saya mendapatkan 10 penelitian individual terkait, maka analisis meta akan saya lakukan untuk mengintegrasikan hasil 10 penelitian individual tersebut agar saya mendapatkan 1 temuan integratif untuk menyatakan hubungan antara A dan B. Berbagai analisis kuantitatif dalam analisis meta ini menjadikannya sahih dalam mengatasi hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang mungkin saling konflik dan mengandung berbagai keterbatasan baik karena sampel ataupun karena artefak penelitian dan alat ukur yang digunakan.
Analisis meta bukanlah pendekatan penelitian yang lahir tiba-tiba. Perjalanannya diawali dari kebutuhan manusia untuk memahami fenomena dalam lingkungannya dengan menggunakan pendekatan penelitian, lebih utamanya yang terkait dengan analisis meta adalah penelitian dengan metode kuantitatif. Berdasarkan kebutuhan tersebut, berbagai penelitian dilakukan untuk memahami hubungan antara variabel. Bahkan beberapa penelitian dilakukan untuk mengkaji hubungan variabel-variabel yang sama. Alhasil, bukan pencerahan yang didapatkan, berbagai duplikasi dan replikasi penelitian tersebut mendapatkan hasil yang berbeda-beda dan bahkan konflik dalam menjelaskan variabel-variabel yang sama. Peneliti menganggap bahwa kondisi ini terjadi karena keberadaan variabel moderator ataupun confounding yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, arah riset selanjutnya ditujukan untuk mengkaji berbagai variabel moderator dan confounding ini. Hanya saja, temuan-temuan yang berbeda dan bahkan saling konflik dalam kajian moderator dan confounding masih terjadi.
Fakta ini berdampak pada diragukannya kesahihan kontribusi ilmu sosial dan keperilakuan dalam dunia keilmuan. Dampaknya, pada tahun 1981 pemerintah Amerika mengusulkan untuk memotong subsidi penelitian bagi bidang sosial dan keperilakuan. Kondisi ini menjadikan ilmuan di bidang ini harus berpikir keras untuk menemukan metode untuk mengintegrasikan penelitian-penelitian individual. Penelitian dengan pendekatan yang naratif subjektif (the narrative subjective review) dihadirkan. Hanya saja, pendekatan ini justru menguatkan mitos tentang ketidakberadaan penelitian yang sempurna (the myth of perfect study) yang berbaya karena dapat menimbulkan sikap apatis terhadap penelitian dan kesimpulan-kesimpulan sempit. Kondisi ini menjadi dasar dari kepopuleran analisis meta, yang sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1970, sebagai ‘dewa penolong.’ Analisis meta inilah yang mengangkat beban di pundak peneliti sosial dan keperilakuan karena pendekatan ini mampu mengintegrasikan secara kuantitatif berbagai penelitian individual yang telah dilakukan sebelumnya.
Apa yang reflektif bagi diri saya dan rekans dengan mengetahui informasi ini? Bagi saya, jangan takut untuk melakukan penelitian karena penelitian-penelitian individual perlu dilakukan segera untuk mempercepat dilakukannya penelitian dengan analisis meta. Kontribusi aktif kita sangat diperlukan untuk membangun teori yang akan sangat berguna bagi manusia. Yang kedua, penerbit jurnal harusnya nggak terlalu selektif dalam memilih artikel-artikel yang dipublikasikan. Karena semakin banyak artikel penelitian yang dipublikasikan, maka semakin mudah akses untuk mendapatkan ‘reponden’ atas suatu analisis meta. He..he..he…
Yang baru berjuang untuk publikasi lagi. Semangat! Amin!